Tuesday, November 30, 2010

My Hair Journey

Hello there!
This time i wanna show my pic, emm, well, this's not a form of my nasrcissism, of course not :")
Suddenly, i just miss my long hair, that i ever had in my life. Ok, I will share you now, Oh please, DO NOT Laugh ok :P
First, yes, this is me with my longest hair, around bra strap length. I always cut my hair :0. I remember, in high school, with my bestfriend, we dreamt, we've a long curly hair, but not so curly, creapy, just like a doll, wavy maybe, emm so cute I think. *,* (June 2010)


Before the phographer shooted me in this snap pic, i just brush my hair, and fortunately, my hair mood just good that time. I loved my hair in this pic


Well, i hate my long hair because always dirty, and made me shy. I just shampooed my hair, after dry, and then my mom ask me "Hey, when was the last time you washed your hair?" WHAT? -.- So I cut my hair, see the pic above. (Sept 2010)


Tadaaaa! I cut my hair again. well, i cried because my brother see me first, and said "Ugly! So Creepy." T,T. But, when i met my boyfriend, yeah, he loved it, just confidence he said. Maybe he don't wanna made me mad.

well, i cut again my hair, but this time, i loved it! Sorry, my hair is good just this pic so bad, hhe. (Nov2010)



I know, some people ever had long hair cut short and regreted it, dont't worry your hair will return ;)

Wednesday, November 24, 2010

From DJ RAP : About Boring

Setiap hari kita makan (Kecuali lagi puasa, diet, nggak punya uang, gak bisa masak, gak ada makanan halal, dan sejenisnya). Sampai-sampai kita sering dengar, hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Ya sejenis ayam dulu baru telur atau telur dulu baru ayam.

Nah, nggak sengaja tadi di jalan dengerin radio 106,1 FM Geronimo lagi interview DJ luar yang mau main di Jogja ntar malem (24Nov) "DJ RAP" terus si DJ pas ditanyain musik apa yang disukai u/ digarap (sejenis itulah pertanyaannya, lupa) and she answered "Everything. You dont eat the same breakfast, it's boring."

Hmm, selanjutnya terpikirkan itulah mengapa seseorang selingkuh. Same person? Boring! Off course! Saya setuju-setuju saja, entah itu pasangan kita 1 minggu, 1 tahun, 10 tahun, 100 tahun, bahkan seharian saja bisa memunculkan rasa bosan.

Bosan bukan menjadi alasan apalagi jawaban, itu cuma perantara kita dalam menyelidiki sebuah rangkain dalam proses menjalin hubungan.
  • Saya bosan dengan dia, tapi saya takut selingkuh, nanti karma, terus gimana?
Improve not increase apalagi cheating. Find out.
  • Saya bosan dengan dia, saya ingin putus saja, so?
Karena bosan? Lagi-lagi, "WHY" , jangan kambing hitamkan si 'bosan'

Beruntunglah kita masih merasa bosan, artinya kita tahu ada permasalahan di dalamnya. Kita bosan, setelah ditelusuri, ternyata ini karena gaya pacaran yang selalu begitu-begitu saja. Kita bosan, karena dia tidak pernah ada untuk kita. Kita bosan, karena dia terlalu sering bersama kita. Kita bosan, karena dia selalu melakukan hal yang tidak kita sukai. Kita bosan, karena ternyata kita terlanjur dekat dengan orang yang menurut kita menarik. Kita bosan, karena dia sengaja membuat kita bosan. Kita bosan, karena dia membosankan, dan ternyata bukan tipe kita selama ini.

Banyak hal yang bisa digali dari bosan tersebut. Akhirnya, dari perasaan itu, kita dapat membuat langkah baru, memperbaiki jika bisa, mengubah jika memang harus, tinggalkan jika memang begitulah adanya. At least..

Boring? Is Good (Pretend to be good)




Tuesday, November 9, 2010

Pentas Monolog Kucing : Butet Kartaredjasa

Ya, seperti yang pernah saya bilang di postingan saya sebelumnya, akhirnya saya bisa menonton Monolog Kucing di hari kedua, tepatnya tanggal 4 November di Concert Hall Taman Budaya Yogya.
Kami berempat,satu keluarga, pesan yang 30 rb saja, mau yang lesahan di depan sendiri 50rb, tapi mama saya nggak kuat duduk lesehan, dan nggak mau kalau pisah-pisah, katanya sih dia ikut karena ada unsur kebersamaannya, hhe, selain memamng suka mas Butet:)

Sayang, saya tidak membawa kamera dan HP saya tidak berkamera, jadi nggak sempat foto adegannya mas Butet di Monolog Kucing..

Monolog Kucing dimainkan tidak begitu lama, satu jam setengah kurang lebihnya. Tapi asik, lucu, dan mas Butet OK deh pokoknya :) Apalagi karya Putu Wijaya.



Di Awal dia menceritakan tentang istrinya yang lagi balik ke rumah orangtua gara-gara si bapak ingin service lebih, si Ibu nya nggak mau, hha. Settingannya pada bulan puasa.
Ya setelah mencibir, bercerita, tentang ada kucing tetangga yang datang, diselingi sindiran-sindiran politik ala mas Butet, akhirnya tahu deh kenapa Kucing, bukan buaya, ular, atau hewan lain. Karena hewan lain sudah banyak diwakilkan. Contohnya Buaya vs Cicak. Babi untuk celengan polri, dan macam-macam.

Disitu juga mas Butet bermain sebagai ketua RT yang sukanya korupsi walau di awal nampak bagaikan Nabi, katanya begitu, hha. Ya tentu saja, diakhiri dengan mas Butet yang membunuh kucing tetangga secara tidak sengaja, dan diminta pak RT ganti rugi tanpa memberi bantuan atau saran apapun. Itulah akhirnya. Sambil menyobek-nyobek tagihan pembayaran kucing dan menggumam bahwa dia memang bukan apa-apa. untuk menjadi seorang 'pahlawan' yang 'bijak' harus mempunyai tumbal. End.

Siapa yang sudah nonton? Bagaimana menurut anda?

BUKIT INDAH RESTAURANT AND HOTEL

Awalnya kami sekeluarga hanya ingin menghindari debu yang cukup tebal di rumah, lantai isinya debu, bahkan kasur saya abu-abu karena kena debu vulkanik dari Merapi pada malam hari tanggal 4 November 2010. Akhirnya karena rumah kami jaraknya 22 km, dan waktu itu 20 km amannya, jadilah debu menumpuk cukup banyak, keadaan waktu itu memang cukup mengkhawatirkan. Kami jadi tidak bisa membedakan mana yang bunyi petir dan mana yang bunyi letusan Merapi, sedikit kacau lah. Kami disini tapi cuma yang perempuan-perempuan saja yang sudah panik, hhe.

Balkon atas (sedikit berdebu juga karena debu vulkanik Merapi)

Lalu untuk menghindari debu, maka kami pergi ke selatan. Ke arah Gunung Kidul, melewati Kalasan nanti ada jalan pintas kalau dari rumah itu lebih dekat. Memang Ayah saya hanya ingin membuat para wanita tenang, jadilah kami menginap di sebuah hotel ngawur aja sih, tapi dari luar kelihatan lumayan menarik. Holel Bukit Indah namanya. Ketika masuk ke dalam pemandangannya bagus, kami sampai lupa kalau ini bukan 'piknik' tetapi 'ngungsi'. Ternyata kamar sudah penuh, tinggal 1, sedangkan kami ber 6, include mbak yang bantu-bantu di rumah. Akhirnya adik saya yang laki-laki dan si bapak tidur di kamar driver, kecil sekali, 2x3, kasurnya dari kapuk tanpa dipan, tanpa TV tanpa AC tanpa kipas angin. Tapi nggak masalah, namanya juga cowok :)

Disana spesial seafood, harganya standar sih, tetapi rasanya kurang enak, menurut kami loh. Setelah makan, kami iseng bermain pingpong. Saya dan adik perempuan saya yang duluan, tetapi kami benar-benar payah, tidak pernah tak tok tak tok, selalu jatuh, hha. Lalu si Bapak datang, sambil meminjam raketnya dan menyuruh kami memanggil mama, ternyata mama dulu atlet pingpong perwakilah di Fakultasnya, tetapi nggak menang sih, hhe.

Semakin malam, suasanya semakin romantis disana. Dari balkon sudah ada lilin lilin menyala dengan bunga mawar di tengah meja bundar, cocok sekali deh kalau mau memadu kasih disana sambil melihat pemandangan dari atas bukit. Sayang, saya lupa foto bagian itu.. :(

Pemandangan pada jam 7 pagi di hotel Bukit Indah. Sejuk, masih asri. Bahkan kita mendengar suara kambing loh. hhe.

Kamar Harga Deskripsi
Standard RoomRp. 250.0002 persons, TV, AC, hot water
Deluxe RoomRp. 300.0002 persons, TV, AC, hot water, view
Superior RoomRp. 400.0002 persons, TV, AC, hot water, view
Suite RoomRp. 500.0002-4 persons, TV, AC, hot water, view

Tertarik? Coba saja mampir
BUKIT INDAH RESTAURANT & HOTEL
Jl. Jogja - Wonosari Km. 15, Yogyakarta
Phone:
+62 274 7494155
SMS:
+62 8562865692

Selamat mencoba :)

Hello Kitty Fever


Selamat datang di Hello Kitty's Room Fever


Pernak-pernik yang tidak muat untuk dipajang di kamarnya yang kecil yang tidak pernah ditudurinya, hmm, lebih tepatnya ini bukan kamar tidur hanya persinggahan di siang hari

Beberapa koleksi hadiah dari teman-temannya juga oleh-oleh dari saya


Hello Kitty yang saya tau yang asli itu dari sanrio, tapi kebanyakan sih ini beli di mall-mall yang harganya ya tidak begitu mahal ;) Mari kita tengok sedikit koleksi Hello Kitty kesayangannya :)


Ini adalah beberapa koleksi Hello Kitty milik adik saya. Dia memang sangat sangat menyukai Hello Kity. Mulai dari perlengkapan tidur seperti sarung bantal, bantal, seprei, selimut. Alat-alat tulis. Di mobil juga sebenarnya ada koleksi Hello Kitty tapi tidak sempat saya foto. Lalu kamera yang saya pakai ini juga dicover stiker Hello Kitty. Keyboard laptopnya juga Hello Kitty. Cincin Hello Kitty. Sandal, Jam, tempat sampah, mainan-mainan, banyak sekali tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Dan hampir semua koleksinya ini, kebanyakan pemberian dari saya, karena saya sering jalan-jalan :D, ya walau kadang saya suka minta ganti uang sih ke adik atau mama saya, hha. Sebenarnya masih banyak koleksinya yang tersebar di penjuru rumah, tapi saya malas fotonya, :p, keramaian juga nanti.


Nah, kalau yang ini asli sanrio, oleh-oleh waktu ke KL. Jam tangan yang jarang sekali dipakai adik saya, saking sayangnya. Yah, hampir semua koleksinya ini tidak benar-benar digunakan, hanya dipajang saja.

Hanya ini satu-satunya barang yang direlakannya bersama dengan sampah-sampah. Namanya juga tempat sampah =,=. Ya beginilah beberapa koleksi Hello Kitty milik adik saya.


Bagaimana dengan Anda? Apa yang Anda koleksi? Mari berbagi :)

Saturday, October 30, 2010

Medea Media




29 Oktober 2010 rencana pergi menonton sirkus di alun-alun akhirnya diganti dengan menonton Medea Media di JNM. Memang, sebelumnya bingung memilih antara sirkus - Medea Media (Naomi Srikandi) atau Tusuk Konde (Garin Nugroho). Yah sirkus Rusia masih bisa ditonton hingga 1 November. Jadi tidak masalah di cancel dulu (tapi saya tetap harus menonton sirkus itu, mungkin hari Minggu besok). Sedangkan Tusuk Kond
e harganya lebih mahal dan malas melewati malioboro. Bukan berarti memilih Medea Media hanya karena harganya lebih murah, tetapi bahasan mengenai media lah yang mendorong saya akhirnya memilih pergi kesana tadi malam. Sampai disana untung dapat tiket, dan penuh. Ohya, rencana tiket akan disumbangkan seluruhnya untuk membantu korban bencana Merapi.


Medea media menggambarkan media kita saat ini serta beberapa tokoh di dalamnya, beberapa kekocakan mewakilinya. Mulai tren TV show, media online seperti twitter, dan beberapa kasus yang sempat hangat di media. Isu mengenai gender, hak wanita, serta poligami pun ikut diceritakan di dalamnya. Jika kita merupakan individu yang tidak begitu
menyimak media saat ini, isu-isu yang berkembang, mungkin menonton Medea Media hanya akan membuat Anda bingung dan bosan. Bagaikan ketika kita menonton Madame X tetapi kita tidak mengetahui humor-humor khas para lekong ya akhirnya tawa yang kita rasakan akan berbeda dengan kaum gay yang menontonnya.

Medea media menceritakan kisah Medea yang menyerahkan apa saja demi suaminya, Jason, yang akhirnya Jason malah menikahi seorang putri dengan alasan "Untuk kebaikan anak dan istrinya". Namun kenyataannya Media malah terasingkan dan ingin diusir oleh Raja, ayah dari putri yang dinikahi Jason. Hingga terjadilah sebuah massive effect, Medea yang akhirnya membunuh anak-anaknya serta pacar suaminya. Hanya saja, dalam teater ini memperlihatkan bahwa Medea telah mengalami kekerasan dan Jason merasa hal tersebut (poligami) adalah "demi kebaikan bersama". Medea Media sendiri merupakan adaptasi dari Medea karya Euripides yang ditulis 2000 tahun lalu.

Keesokan paginya, sungkan karena HP saya mati dan saya belum ijin, serta pulang telat, seharusnya jam 9 kurang tetapi jadi jam 10.15, akhirnya saya menceritakan pembatalan rencana menonton sirkus diganti dengan medea media kepada bapak saya (padahal si bapak juga tidak tanya). Ternyata saya yang menonton langsung Medea Media malah kalah dengan bapak saya. Beliau tahu para pemainnya, tentang Naomi Srikandi, kameramennya, naskahnya. Wah @,@ malunya saya karena ketika ditaya pemain-pemainnya saya tidak tahu nama aslinya.



Rencana selanjutnya adalah menonton Monolog Kucing Butet Kartaredjasa karya Putu Wijaya. Tanggal 3 & 4 November 2010 pukul 20:00 @ Concert Hall Taman Budaya. See u There :)

Friday, October 22, 2010

Eat, Pray, Love


Film yang diadaptasi dari buku Eat, Pray, Love sebuah kisah nyata memoar Elizabeth Gilbert (Julia Robert) dalam perjalanan mengisi kekosongan yang terjadi dalam hidupnya dan merupakan sebuah masalah besar baginya, Liz mengeluh tak ada lagi hasrat dan gairah akan hidupnya.

Berawal dari pernikahannya dengan Stephen. Dalam sebuah perjalanan pulang, Liz bercerita dengan semangat mengenai hal-hal yang ia inginkan, dan ketika Stephen (Billy Crudub) menceritakan tentang keinginannya sekolah lagi ada sebuah kejanggalan dalam hati Liz.

Dalam sebuah malam, Liz memandangi suaminya, lalu ia mulai merasakan kegusaran, apakah ini yang selalu diidamkannya selama ini, pernikahan yang sudah terjalin selama 10 tahun. Menelusuri lebih dalam hatinya, adakah sebuah kebahagiaan di dalamnya. Lalu Liz mencoba untuk berdoa kepada Tuhan dan akhirnya sepasang suami istri tersebut memang mempunyai hal yang selama ini menjadi masalah, ketika mereka ingin berkata tidak dan itu hanya terpendam. Seketika Liz mengetahui hal tersebut dan ia memutuskan bercerai dengan suaminya.

Perceraian tidak berjalan semulus itu, Stephen tidak menginginkan sebuah perceraian. Dalam perdebatannya Stephen menunjukkan betapa ia mencintai Liz dan tidak ingin bercerai, bagaimana Stephen berusaha menjadi apa yang diidamkan Liz. Namun kenyataannya, Liz lah yang tidak mengerti apa yang diinginkan suaminya, bahkan untuk dirinya sendiri Liz tidak mengerti. Sakit hati, tentu sakit hati yang mendalam bagi Stephen, namun akhirnya Stephen menyetujui perceraian tersebut, dan entah mengapa Liz tidak merasakan keputusan yang telah di'iyakan' oleh Stephen membawa kebahagiaan atau kesedihan.

Dalam proses perceraiannya, Liz bertemu dengan seorang pria bernama David (James Franco), seorang aktor muda yang sempat membawakan cerita Liz. Kisah cinta mereka cukup cepat, David yang berumur 23th itu mempunyai semangat, dan idealis yang cukup tinggi. Lagi-lagi Liz merasakan ada sebuah kejanggalan dalam hubungannya, kehampaan mulai terjadi. Hubungan yang berawal dengan sebuah kemesraan lambat laun mengalami sebuah masa penurunan. Liz memutuskan untuk pergi. Layaknya Stephen, David pun mencoba untuk tidak lepas. Mereka mempunyai masalah, mereka takut, dan mereka memilih untuk tetap bertahan untuk menderita bersama. Itulah pilihannya, dan Liz tidak bisa.

Setelah semua itu terjadi Liz menyadari dirinyalah yang bermasalah. Dan mulailah dia melakukan perjalanan menuju Roma - India - Bali.

Di Roma ia ingin mengembalikan lagi selera makannya, ia ingin bersenang-senang. Disitu Liz bertemu dengan Sofi (Tuva Novotny) seorang perantau dari Swis. Dari Sofilah ia mempelajari bahasa Italia melalui Giovanni (Luca Argentero), pacar Sofi. Mereka berkuliner bersama, menikmati setiap makanan khas di Roma. Pizza, spaghetti. "Happy for doing nothing" adalah sebuah nuansa yang diberikan oleh teman-teman Liz. Hidup bahagia bersama orang tercinta. Roma telah membangkitkan gairah makannya, tetapi tidak untuk hatinya. Masih saja Liz merasakan sebuah kekosongan.

India. Liz berencana untuk bertemu dengan guru David. Ia berusaha bermeditasi, namun ternyata hal itu tidak mudah, ia tidak dapat mengosongkan pikirannya. Hatinya masih bermasalah. Disitulah ia bertemu Richard (Richard Jenkins) pria separuh baya dari Texas yang mencoba memaafkan kehidupan masa lampaunya. Liz berusaha mencari sebuah kedamaian, melakukan meditasi, beribadah, dan melihat sebuah pernikahan dini seorang remaja India yang dijodohkan. Pengalamannya membuat Liz akhirnya mencapai sebuah ketenangan. Mengetahui Richard pernah mengalami hal yang sama buruknya dengan Liz, bahkan mungkin lebih buruk, semakin membuat hati Liz mulai tergerak.

Akhirnya Liz kembali ke Bali, mengikuti sebuah petunjuk dari Ketut Liyer (Habi Subiyanto) beberapa tahun yang lalu. Di Bali Liz mempelajari mengenai keseimbangan dalam hidupnya, Ketut hanya meminta Liz melanjutkan meditasi yang dipelajari di India setiap pagi, selanjutnya Liz harus menikmati Bali, memberi waktu untuk dirinya bersenang-senang, dan melanjutkannya dengan meditasi senyum, senyum dari pikiran, hati, jiwa dan raga. Di Bali, Liz bertemu dengan Wayan (Christine Hakim) seorang single mother yang bekerja untuk mengobati orang secara tradisional. Melihat Wayan dan anaknya, Liz terketuk untuk membantu secara finansial dengan mengajak teman-temannya menyumbangkan, hingga terkumpullah $18000. Selain itu Liz bertemu dengan new lovernya yaitu Felipe (Javier Bardem), seorang single father dari Brazil yang sangat menyayangi anak-anaknya. Sama halnya dengan Liz, Felipe mengalami sebuah kegagalan dalam pernikahannya, dan telah melewati masa itu selama 10 tahun hingga akhirnya hati Felipe terbuka untuk Liz. Sayangnya Liz masih meragukan hal tersebut hingga di akhir ketika Liz memutuskan untuk pulang, Ketut berkata "To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life." barulah ia sadar ia mencintai Felipe dan menerimanya.

Film ini disutradarai oleh Ryan Murphy dan Dede Gardner sebagai Produser. Bukunya menjadi New York Times best Seller selama 187 minggu. Sayangnya tidak sebagus bukunya, film Eat, Pray, Love tidak mendapatkan sambutan yang hebat terutama kritik terhadap para pemain yang dianggap tidak bisa menjadi bagian dari kisah Elizabeth Gilbert.

My Personal Review:
Saya belum membaca bukunya, sehingga tidak bisa membandingkan pencitraan yang ingin disampaikan dari bukunya hingga menjadi sebuah film. Selama dua setengah jam duduk menontonnya memang lumayan menjenuhkan, datar. Konflik yang digambarkan memang tidak wah sehingga membuat bosan. Beberapa pemeran pria di setiap negara yang dikunjungi Liz memberikan sebuah interpretasi yang sama, hampir semua menunjukkan sebuah keintiman yang sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikan. Saya mengagumi Julia Robert, namun saya lebih menyukai ketika ia berperan sebagai gadis yang sangat riang. Salah satu hal yang membuat saya bertahan untuk menontonnya adalah Bali dan salut untuk para pemain Indonesia :)

Similar Movies:
Sex and the city