Tuesday, January 4, 2011

Tren, At least... #Part1

Beberapa tren saat ini bisa dibilang hebat, butuh budget, butuh keberanian, yah walau hanya sekedar mengikuti tren, tidak ngeroot, follower, swanky, poser, lackey apapun itu, beberapa tren satu ini setidaknya memberi manfaat bagi si townies.
(macfomus.com)

BLACKBERRY
Banyak sekali handphone yang memiliki kecanggihan lebih dari blackberry dengan harga yang juga tidak jauh berbeda, namun epidemi BBM tidak mudah ditaklukkan. Walau nggak butuh-butuh banget, setidaknya jadi lebih mudah ngobrol dengan teman dan up to date.

(freshnessmag.com)
FIXIE
Orang setidaknya merakit, ya meningkatkan kreatifitas juga, selain itu, namanya juga sepeda ya pasti buat sepedaanlah, walaupun cuma gaya-gayaan aja, yang penting geosss, jadi olahraga juga deh, ditambah pas pada kumpul sepedaan jadi lebih banyak yang bersepeda juga mengurangi polusi udara.


(freshnessmag.com)
DENIM
Namanya juga fashion, ya pasti update dan wajar aja ngikutin tren. Setidaknya tren ini mampu membuat banyak anak muda terdorong untuk berbisnis.


(nedentallab.com)
BEHEL
Butuh tidak butuh, banyak yang memakai behel sekedar aksesoris saja. Ya nggak papa, bantu melarisi dokter gigi, dan juga menjadi salah satu lahan bisnis anak muda yang jualan behel. Selain itu mereka pakai behel juga jadi pilih-pilih makanan juga kan :)

(elegant-tattoss.blogspot.com)
TATTO
Mau mereka tidak begitu mengerti kenapa akhirnya memutuskan untuk menato tubuhnya, minimal mereka belajar seni dari situ, merasakan bagaimana rasanya ditato, dan belajar bertanggungjawab dengan pilihannya. Cepat atau lambat.


Pseudo Lyric

Pseudo

When you conk out

I can see your bloom

behind your closed eyes

Got an extra time and extra chance

when we need it

Even we are in a pseudo tragedy


Can not predict

what will happen

but we knew it clearly

Look sweet to be in love with u

Reff:

We’re just part of the process

You and I

We are the small door in the first episod of Alice

We’re just part of the process

You and I

Ins and outs of life


Till I cried when i said i love u

No pressure No bad day

No moans before

Just a pure tears in the truth recognition


Sooner or later we collapse

Without climbing

Without finding

Since we already fragile before


*It used to be one of my lyrics, but don't worry i'll try to make a good lyric for my own music :)

IS IT WORTH IT?


IS IT WORTH IT?
Hmm... well i just got a dilemma,
i thought i can do that, yeahs i can,
but is it worth it for me?
Oh, with pleasure i want to do that, it would be a big incredible moment also a big credible shit someday... But maybe, it just depends by what i wanna do.. yaaah.

Monday, January 3, 2011

Dieng


Saya baru sekali ke Dieng, Wonosobo, ternyata menuju ke Dieng cukup mengerikan juga, tidak seperti ke cangkringan, ketep, dan tawang mangu. Waktu kami sekeluarga pergi kesana, posisi ada jalan yang rusak, sudah itu seperti ke gunung, jalan curam dan sepit, berkabut, eh ditambah ada jembatan ambrol karena longsor, jadi diganti dengan jembatan sementara dan itu cukup mengerikan...

Setibanya disana udaranya dingin namun menyejukkan dan segar. Saya memulainya dengan mengunjungi candi-candi disana, melihat taman dan keindahan tanaman yang tumbuh di dataran tinggi itu, melihat peninggalan tradisi jaman dulu serta budaya gimbal yang masih bertahan disana melalui museum, serta ke telaga. Masih banyak tempat menarik lainnya, sayang kami tidak bisa stay lama karena malamnya adik saya harus les. Kalau mau kesini jangan tanggung-tanggung untuk mengunjungi berbagai tempat menarik disana. Selain yang saya sebutkan, ada banyak candi dan telaga lainnya, kawah, gunung, air terjun, gua, waduk, agrowisata, dll.

Ayo, daripada penasaran, silahkan mampir ke Dieng :)

Sunday, January 2, 2011

Pasca Merapi Yogyakarta

"Volcano Tour After Mount Merapi Eruption"

Mengakhiri hari terakhir di tahun 2010 kemarin, kami sekeluarga besar pergi ke salah satu wilayah yang terkena dampak dari erupsi Gunung Merapi yaitu daerah Cangkringan.

Sebelum berangkat adik saya berkata "Ngapain ke Merapi? Bencana kok malah dilihat?" dan ayah saya menjawab "Kejadiannya kan sudah selesai, justru penduduk sana pingin kita kesana, supaya dapat retribusi juga dari kita yang mengunjungi.". Setelah dijelaskan seperti itu akhirnya adik saya mengiyakan.

Dalam perjalanan, ketika saya menengok ke arah sisi kanan kiri jalan yang dikelilingi oleh pohon-pohon saya melihat di bagian kanan menuju cangkringan, hutan itu nampak rimbun dan tenang, tidak ada tanda-tanda terkena erupsi, namun hanya selisih beberapa meter di belakangnya, pohon-pohon disana telah kering. Hal ini terjadi karena faktor angin juga yang membawa "wedhus gembel" kesana. Selain itu ada beberapa barang seperti motor dan sepeda yang sengaja dipajang di sisi jalan untuk menunjukkan bagaimana panasnya dapat membuat kendaraan itu sampai melepuh.

Disana, ada beberapa penduduk yang menyodorkan kotak-kotak, dan saat itu sepupu saya bertanya "Kenapa kok kasi kotakan? kan sudah selesai bencananya?" lalu om saya (ayahnya) menjawab, "Loh, kamu belum sampai ya kesana? Gini lo nak, panasnya wedhus gembel itu 1000 derajat, rumah-rumah yang mereka tempati rusak, rumah yang mereka bangun susah-susah atau yang sudah diwarisi turun temurun. Sawah mereka kering, tempat mereka bekerja. Sapi mereka mati. Nah mereka memang selamat, tapi kan mereka harus menjalankan hidup lagi seperti biasanya, dan dengan keadaan mereka sekarang mereka butuh biaya lebih untuk memulai lagi dari nol." dan sepupu saya sekarang mengerti kenapa mereka membutuhkan dana lagi.

Bencana memang bukanlah sebuah tontonan, tetapi, dengan bijak, di waktu yang tepat, "wisata bencana" merupakan salah satu cara membantu mereka bangkit. Kami kesana membayar tiket, orang-orang disana membaantu parkir, dapat berjualan foto, berjualan jajanan, yang tentunya dapat membantu mereka mencari nafkah. Dari sisi penontonnya, kami jadi mengerti bagaimana kebesaran-Nya, bagaimana kesedihan mereka serta kegigihan mereka untuk bertahan hidup.

Saturday, January 1, 2011

Epilog Perkuliahan Komunikasi dan Resolusi Konflik B 2010


"Kala Hati Tak Bisa Dikaji"

Sebuah drama singkat berdurasi sepuluh menit yang dijadikan sebagai simulasi yang bertujuan untuk melihat bagaimana kami menilai sebuah konflik dan menyelesaikannya.

Jenar, Roy, Nenek, Putri, Yopi
(dari kiri ke kanan)

Bercerita tentang seorang gadis yang dijodohkan oleh ayahnya dengan alasan si pendamping pria sudah sukses secara materi. Namun si gadis(Putri) tidak menginginkan hal seperti itu dipaksakan, karena dia memiliki pandangan bahwa itu adalah haknya untuk menentukan hal tersebut. Ditambah dia sudah memiliki pasangan hidupnya si Jono. Sayangnya si adik (Roy) dan sepupu perempuannya (Jenar) tidak menyukai Jono yang dianggapnya kampungan, dan selalu memanas-manasi ayahnya(Pak Iskandar). Sedangkan si Ibu yang sedih melihat Putri terlihat nelangsa itu tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun sebenarnya Ibu mendukung Putri. Di rumah tersebut juga ada Paman (Paman Iskak) dan Bibi (Tante Melly) yang juga tinggal disana, Paman Iskak pun mendukung Iskandar, sedangkan Melly dan anak laki-lakinya(Yopi) memilih netral. Sampai akhirnya pada sebuah rapat besar keluarga tersebut, si nenek (Nawang Sukotjo) datang untuk membantu memberikan arahan terhadap konflik yang terjadi di rumah itu. Putri yang dengan keras kepala menolak dan meyakinkan tentang Yono, Iskandar yang juga teguh menjodohkan dengan si konglomerat dan nenek akhirnya bisa menengahi dengan mendengar apa yang dikatakan oleh Putri juga Iskandar, bagaimana sebuah kekayaan itu tidak menjamin, dan tidak everlasting. Nenek yang mempunyai wibawa yang sangat kuat itu mampu membuat Iskandar berpikir ulang, hingga akhirnya memutuskan untuk melihat keseriusan Jono lebih dahulu.
-END-

Arogansi manusia

Menurut KBBI, aro·gan·si n kesombongan; keangkuhan: kalau tidak mau meminta maaf, berarti dia mau menunjukkan -- kekuasaannya.


VS


Skor di atas menunjukkan bahwa gambar kedua lebih unggul daripada yang pertama dan saya pemenangnya. (Saat itu). Mungkin dalam permainan perang bintang saat itu, saya bisa mengalahkannya tapi tidak dalam beberapa permainan yang dibuatnya sendiri.

Manusia ketika sudah mendapatkan sesuatu yang tinggi terkadang menjadi 'tidak tau diri' atau bisa dibilang takabur atau seperti judulnya menjadi seorang manusia yang arogan. Kita mungkin saat itu atau saat ini berada di atas tetapi apa yang ada di depan kita tidak tahu bagaimana jadinya, bahkan dengan beberapa persiapan atau penilaian di awal pun tidak membuat kita mengetahui apa yang akan terjadi esok. Bahkan ketika kita sudah di atas pun seharusnya tidaklah kita melupakan orang-orang disekitar, terutama diri kita sendiri. Saat di atas kadang kita lupa bagaimana cara kita menggapainya, bagaimana habit kita, attitude kita sebelumnya, hedonisme melanda dan arogansi menjadi salah satu attitude yang menempel di diri kita. Hal seperti itulah yang perlu kita kontrol. Arogan tidak sama dengan percaya diri, sama halnya rendah diri vs minder.

Ketika seseorang merasa sudah dibutuhkan dia juga bisa menjadi punya kuasa pada orang tersebut, saat dia bersalah pun itu baginya adalah lumrah. Tidak perlu ada kata maaf lagi, bahkan tidak perlu basa-basi, karena baginya itu bukan masalah. Tapi tidak untuk orang yang terkena dampaknya, dia dapat merasakannya. Dan disitulah timbul sikap begging kepada seseorang yang ia butuhkan. Ketika mereka bersalah, dia memafkan dan membiarkan, bahkan kadang dia merasa ini mungkin hanya dia saja yang terlalu mempermasalahkan, sehingga malahan dia yang minta maaf. Kasian sekali. Namun begitulah yang sering saya rasakan. Dan ketika saya menyebutkan bahwa saya rela begging dan memaafkan kesalahan dari orang yang arogan itu, saya pun sudah menjadi bagian dari bentuk arogansi manusia.