Sunday, September 19, 2010

Welcome to Bukit Bintang

Hai! Mungkin sebagian mengira saya baru saja asik berbelanja dan menikmati hiburan yang ada di Bukit Bintang , KL, no! Ini beda, bukit bintang punyanya Yogyakarta :) I bet banyak bukit bintang lainnya di daerah2 Anda.

10 tahun saya di Yogya dan pertama kalinya saya pergi ke bukit bintang! Waw. Kemana saja selama ini? Hmmm.
Perjalanan +- 45 menit, sampai disana sekitar maghrib. Tidak punya gambaran sama sekali tentang bukit bintang, hanya sering mendengar teman-teman yang mampir kesana, dan ternyata saya kelewatan mungkin kurang lebih 100-200 meter. Ooooh! Tenyata ini namanya bukit bintang!
Sekilas nampak seperti Kintamani, bedanya tidak ada anjing berkeliaran, tidak ada danau, atau gunung yang cukup tinggi untuk dipandang. Not bad laah, tergantung bagaimana kita menikmatinya kan?
Tentunya, karena ini yang pertama bagi saya, saya sambut dengan riang. Mencoba menikmati udara dan suasananya, apalagi kalau sambil makan jagung bakar (sayangnya saya tidak begitu doyan jagung bakar :( )

Akhirnya langit mulai gelap, lampu-lampu mulai muncul dan menjadi sebuah pemandangan yang cukup dinanti-nanti oleh pengunjung di Bukit Bintang.

Sambil menikmati gemerlap cahaya lampu dari atas sini, saya mencoba menebak-nebak satu bangunan atau daerah, dan zooonk saya sok tahu! Yah, beginilah kalau buta arah dan jarang keluar rumah. hha.
Tebak satu cahaya di foto yang saya ambil, tidak begitu jelas sih. Kata orang di sebelah saya itu Venus. Kalau menurut saya sih itu satelit, hhe. Mana yang bener juga saya nggak tahu, saya sendiri juga jawab asal, tidak begitu mengerti tentang astronomi.
Setelah menikmati pemandangan dari atas bukit, ternyata kami tidak bisa berlama-lama karena hujan turun dan cukup deras. Akhirnya kami menuju ke mobil dan turun kembali menuju kota :)

Untuk yang belum pernah, silahkan mampir, Bukit Bintang berada di Patuk, Gunung Kidul Yogyakarta. Jika ingin kesana, mampir-mampirlah ke pantai Baron-Kukup-dan Krakal, pantainya OK loh :D






Buatlah yang pertama itu selalu berkesan, sebuah kenangan tidak akan menghilang, ada tempat khusus untuk menyimpan dan membukanya, karena itulah sebuah kenangan :) Bukan untuk dilupakan, tetapi untuk dikenang :D

Thursday, September 9, 2010

Riset Pemasaran : Aplikasi dan guna riset


Riset dalam Pemasaran Denial Denim
Denial Denim , sebuah produk celana jeans handmade, dengan jumlah produksi terbatas setiap serinya dan enawarkan bentuk pengemasan yang unik. Berbeda dengan denim lainnya, Denial memberi lebih pada seni pengemasannya serta tema mengenai perlindungan alam dan lingkungan ( hal ini diwujudkan dengan bentuk produk yang ramah lingkungan).

Produk yang ingin disampaikan kepada khalayak adalah sebuah denim eksklusif, yaitu produk dengan kualitas yang baik, dan sangat collectible. Sebagai denim baru dan masih minimnya budget dalam pemasaran, Denial memulai pemasarannya melalui internet. Hal yang pertama kali dilakukan oleh Denial adalah meriset pasar, riset merupakan bagian penting yang perlu dilakukan sebelum memasarkan suatu produk di internet. Tentu hal ini guna untuk mengetahui bagaimana potensi peta pasar yang akan dibidik, apakah potensial atau malah sebaliknya.

Riset pasar dimulai dengan menentukan segmentasi pasar. Target yang ditentukan Denial adalah golongan menengah ke atas dan mengerti akan nilai-nilai sebuah denim yang tidak sembarang produk denim biasa. Setelah mengetahui golongan yang yang ingin dirangkul, maka riset yang selanjutnya adalah melihat wilayah yang dicakup oleh golongan tersebut. Jakarta menjadi target unggul dalam melakukan pengenalan produk. Melalui riset pasar, Denial menentukan banyaknya pencarian terhadap produknya dan bagaimana reaksi pasar. Seperti konsep demand, tidak hanya menjual sebuah produk namun melihat apa yang diinginkan oleh pasar, dan tentunya lagi-lagi riset sangat diperlukan.

Setelah meriset pasar, Denial yang memulai dengan pemasaran lewat media internet merambah forum, dimana terdapat sebuah komunitas-komunitas yang nantinya akan mengembangkan pemasaran produk tersebut. Membangun sebuah komunitas menjadi langkah pemasaran yang baik dalam media baru. Dalam sebuah forum, maka akan dibahas mengenai bagaimana Denial dipandang oleh kelompok-kelompok yang sudah ditargetkan oleh Denial melalui riset pasar sebelumnya. Apakah Denial sudah bisa diterima oleh targetnya, dan melalui forum-forum tersebut melibatkan sebuah riset pengembangan produk.

Riset pengembangan produk meliputi tes konsep yang dipegang oleh Denial, bagaimana produk tersebut diterima oleh pangsa pasarnya. Denial yang memangsa pasar menengah ke atas dan dengan komunitas pecinta denim, menawarkan sebuah konsep produk yang berbeda. Sebuah produk yang eco friendly dengan pembrandingan produk yang dibungkus dengan nilai estetika yang tinggi. Melalui forum, maka akan diketahui hal-hal yang diperlukan Denial dalam memasarkan produknya dengan tepat.

Kasus yang pernah terjadi adalah beberapa pemerhati denim mempertanyakan konsep yang diusung Denial tersebut, "Denial sebagai denim eco friendly namun produknya menggunakan kayu dan kulit. apa tidak bertentangan?" Hal tersebut akhirnya dipergunjingkan, sehingga memunculkan minat lebih kepada khalayak terhadap produk. Melalui riset terhadap pengembangan produk itulah Denial menunjukkan bagaimana konsep ditangkap oleh targetnya lalu akhirnya menjelaskan bagaimana konsep tersebut ingin disampaikan dan diterima oleh khalayak.

Setelah memasuki beberapa forum, lalu dimulailah dengan penggunaan blog yang mendorong Denial untuk lebih menjelaskan secara lebih rinci mengenai konsep dan produknya. Sering diketahui pula kalau di dunia pemasaran tradisional, efek pemasaran dari mulut ke mulut ternyata lebih ampuh daripada memasang iklan di majalah atau TV. Sebagai analoginya, di dunia pemasaran online, dikenal pula pemasaran viral. Konsepnya sama, seseorang yang menerima info, terdorong untuk menyebarkan info tersebut ke rekan-rekannya. Bentuknya di internet bervariasi, dan untuk kasus Denial info tersebut berkembang melalui rekomendasi yang diberikan oleh beberapa forum yang mengangkat produk tersebut. Contohnya adalah dengan Denial Denim mulai disorot oleh media webzine ataupun fashion blog seperti moreyeah.com, readandwhite.com, footurama.com, sneakersindo.com, darahkubiru.com, dan kaskus.com.

Denial Denim yang mulai dibicarakan oleh blog-blog fashion tersebut tanpa membayar budget untuk beriklan, sudah mencapai tahapan 'publikasi' oleh para pemerhati fashion. Hal-hal ini bisa terjadi tentunya dukungan dari riset-riset yang dilakukan oleh Denial, mulai dari riset pasar dan riset pengembangan produk. Setelah itu, akhirnya mulailah terjadi proses pembelian oleh konsumen. Maka riset tidak berhenti sampai disitu, riset yang selanjutnya dilakukan adalah riset perilaku konsumen, sikap penggunaan konsumen dan riset kepuasan konsumen.

Ternyata beberapa dari pembelian yang dilakukan oleh konsumen, ketika konsumen telah melihat produknya dan mengajak berbincang-bincang mengenai nilai produk tersebut membuat konsumen menjadi semakin percaya mengenai apa yang telah dibelinya. Hal itu tentunya mempengaruhi bagaimana konsumen menilai dan menggunakan produk tersebut dan ketika konsumen puas, tanpa perlu diminta konsumen merekomendasikan denial tersebut kepada teman-temannya. Disitulah peran konsumen dalam pemasaran, terjadi bentuk sebuah loyalitas melalui kepuasan yang terbentuk.

Kedepannya Denial Denim akan menitipkan sejumlah barang ke premium-premium store secara limit dan memasarkan hingga ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia, namun tetap sejalan dengan konsep dan idealis produk. Selanjutnya hal yang perlu dilakukan oleh Denial adalah sebuah riset pendistribusian yang sedang dalam proses.

Kesimpulan:

Denial Denim adalah salah satu kasus dimana riset memegang peranan penting dalam proses pemasaran dan periklanan. Bahkan sebagai produk baru di tahun 2010 ini dengan low budget, riset pun sangat berpengaruh dalam memperkenalkan dan mengembangkan produknya dan menghasilkan high impact. Berbagai riset yang dilakukan oleh Denial tentunya pernah dimulai oleh beberapa brand besar seperti Nike yang memanfaatkan people power. Kemudahan yang ditawarkan Internet dalam membentuk komunitas telah mendorong banyak pemain lain, besar maupun kecil dan dari berbagai industri, untuk melakukan hal serupa yaitu merangkul komunitas untuk mendapatkan promosi getok tular, word of mouth. Bahkan lebih dari itu komunitas yang dibentuk juga bisa diharapkan memberi masukan untuk pengembangan produk dan jasa seperti yang pernah dilakukan oleh Dell Inc. Maka terlihat dengan jelas bagaimana sebuah riset tersebut berfungsi dalam sebuah pemasaran dan periklanan.

Daftar Pustaka
http://denialdenim.blogspot.com/

Sunday, September 5, 2010

Flash Fiction: Kasih dan Esa

Sebenarnya ini sebuah tulisan yang secara tidak sengaja saya buat karena ingin melihat proses sebuah perlombaan menulis di flashfiction.ubudwriterfestival.com, sebuah flash fiction :) Selamat membaca (tidak perlu di vote, hha).

Kasih dan Esa

Lagi-lagi kami terjebak dalam sebuah keterbatasan aturan. Antara Tuhan dengan agama.

Ada apa sebenarnya? Benarkah Tuhan itu ada? Ya, kami percaya adanya Tuhan. Tuhan, kami merindukanmu, kami hamba-hambamu yang tidak dapat bersatu di dunia ini.

Kami mempercayai Mu, kami tunduk kepada Mu walaupun dengan cara yang berbeda. Antara agama dan cinta. Haruskah kurelakan cinta kami? Haruskah dia relakan cinta kami? Atau haruskah kami merelakan ini semua demi cinta kami?

***

“Apakah kamu sudah bicara dengan Nya? Kamu tahu darimana Dia tidak mengijinkannya?” tanyanya dalam sebuah perjalanan, dan inilah hal yang sering kami bicarakan.

“Tuhan berbicara melalui wahyu yang diturunkannya melewati kitab. Lantas, kamu pun belum berbicara dengan Nya, kamu juga tidak dapat memastikan apa yang akan dikatakanNya.” Jawabku.

“Ya betul, karena aku bukan Tuhan.” Lanjutnya, dan kami terdiam seperti biasanya.

***

Kami, sepasang kekasih yang dibatasi oleh aturan-aturan dasar. Kami yang mendambakan sebuah keluarga dan hanya menjadi sebuah impian semu. Kami dibangunkan dengan sebuah tembok besar berupa nisan kesedihan dengan pahatan rasa cinta kasih kami terkubur di dalamnya.

Jika kami padamkan kasih ini, apakah kasih ini bisa bertemu dengan Mu Tuhan? Wakilkanlah kasih kami untuk menjawab kegelisahan ini. Bisikkanlah kepada kami untuk menerima ini dengan ikhlas.

Maaf Tuhan, kami selalu memohon kepadaMu apa yang kami inginkan. Engkaulah yang Maha Mengetahui.

Kami bertemu, kami mendekat, kami menantangnya, kamilah yang memulai dan menantangnya, lalu kami mencoba dan berusaha, kami bertanya, dan kini kami berpisah.

Tuhan, pertemukanlah kasih ini di samping tahtamu, berdampingan bersama. Kasih ini bersatu pada satu cinta kami kepadaMu, yang Maha Esa.

Tuhan, inilah cinta kami.



Thursday, September 2, 2010

The Power Of Hug

Hai,
Mana yang sedang anda rasakan saat ini:
A. Galau
B. Sedih
C. Bahagia
D. Marah
E. Kesal

Mungkin ketika ditanya secara langsung, anda akan lebih memilih bahagia, apalagi itu satu-satunya perasaan positif diantara pilihan yang lain.
Namun saat ini bukan berbagai perasaan itu yang ingin kita bicarakan.

Sebuah pelukan

Walter Anderson pernah mengatakan: (The Confidence Course, 1997):
If you're angry at a loved one, hug that person. And mean it. You may not want to hug - which is all the more reason to do so. It's hard to stay angry when someone shows they love you, and that's precisely what happens when we hug each other.

Sungguh kekuatan pada sebuah pelukan itu dapat memberikan kehangatan yang luar biasa, bahkan ketika kita sedang bahagi, kadang secara tidak sengaja kita memeluk teman kita sambil loncat kegirangan.

Kekuatan itulah yang membetuk sebuah kampanye yang bernama free hugs campaign.




Kadang ketika kita sedang bertengkar, sebuah janji-janji atau permintaan maaf tidak dapat kita masukkan ke dalam hati begitu saja, kalimat-kalimat penenang bahkan belum tentu manjur, disaat itulah, pelukan mampu membuat kita tenang.


Selamat berpelukan :)

Bribes

As I guessed, I was left to sleep! ouch.
It feels so upset.
But tickled too, I know, he fallen asleep, but instead I was just waiting, now whose fault?
We were wrong.
I've succumb, say hello first, but in the middle, I brought it back, hha, luckily he apologizes.
I'm not angry, but I'm reluctant to forgive him.
Then he asked, 'So how u can forgive me, i'll give u bribes, what do u want? "
Well, of course I was so entertained, I actually want to answer "U can buy me kwetiaw medan and kietna ice. " but before I'd answer it, he's already preparing another bribe.
What would he give? let's wait for the next story.


In the morning

It's time for dawn, I supposed to be asleep before 11 pm, but I am waiting for my husband (well, since when I get married?), no, I wait for someone to chat via YM.
We started smoothly, but when he call me after finished praying, my brain was not connected.
Until he calls the second, I realized, "hey! He was on the telephone. Wake up!" When I try to connect my brain to help me speak clearly, the process just long enough ...you could say ,finally misunderstandings.

After the line was dead, he didn't return calls, my sms, chat, even my phone, he wasn't answered.

My feeling is mixed:
1. Upset, because he misunderstanding. And I hate when he suddenly disappeared without notice, and it often! Especially if it turns out just be left to sleep.
2. Sadly, it turns out! if indeed I was left to sleep so fast, it's so sad, why did he repeat his habits, but if this is intentional and if this was deliberate, I became increasingly unhappy and maybe going mad.
3. Sorry, I regret not using that time for good conversation, it's just my thoughts everywhere, so I'm not nice to talk to. In fact, if he would be patient a little while, I'll start to talk more comfortably.
4. Hubbub, hubbub, hubbub, hubbub. I can not sleep, I waited for him, but no response? And?


Among the outpouring of my heart this morning.


Wednesday, September 1, 2010

Sweet Supposition

If there was 50 days in a month, maybe it's really tiring. If one month only 20 days may be easier through the day.

If I entered favorite junior high, maybe now I've been study abroad or at least into medicine or engineering.

If I didn't know, i couldn't want you.

If I was born from the very rich family, I don't have to worry about money, don't have to save up for anything, maybe I've become popular.

But that's just a supposition? we don't really feel.

Is it true that when one month becomes faster would be more profitable?

If I study medical then I become successful?

If I was born into a very rich fam, would I still get a college education and a job? Or would I simply depend on my fam money? being popular by my fam money? Is that what I want?

Nothing is certain of a supposition.

Dreaming and hoping it would be permissible, but don't we dissolve into a dream, don't know which is real and what is not.

We live and we're real then, Live the life with full consciousness, even though sometimes it is difficult to accept, but that's a real life:)



See you in dreamland:) Happy September :)