Monday, June 20, 2011
Kesuma Yudha
Namanya Kesuma Yudha,
dipertemukan kala minggu pahing
ditegaskan kala senin pahing
Namanya Kesuma Yudha,
belum lahir tapi sudah pahing
bertanya-tanya ia bertanya-tanya
Namanya Kesuma Yudha,
Kesuma Yudha
belum hidup tapi sudah pahing
belum selesai belum berpaling
dipertemukan kala minggu pahing
ditegaskan kala senin pahing
Namanya Kesuma Yudha,
belum lahir tapi sudah pahing
bertanya-tanya ia bertanya-tanya
Namanya Kesuma Yudha,
Kesuma Yudha
belum hidup tapi sudah pahing
belum selesai belum berpaling
Thursday, April 21, 2011
Pecah *lagi
Semua yang dia katakan sejatinya adalah sama seperti yang kurasakan.
Sedikit kaget dan cemas, bahkan ketika ternyata kami telah merasakan.
Segera aku berpikir mungkin aku lah yang akhirnya membentuk perasaan tersebut.
Sebenarnya, apakah dia merasakannya? Jangan-jangan abjeksi itu bukan terbentuk tetapi kubentuk.
Sesungguhnya aku tidak meragukannya. Mungkin eksistensi dari perpaduan kitalah yang menjadi..
Sayangnya aku tidak merasa depresi.
Sayangnya aku tidak kehilangan hasrat.
Sayangnya sedikit rasa malas saja yah yang memang dari dulu dan nemplok saja mencari pembenaran.
Sayangnya ...
Sedikit kaget dan cemas, bahkan ketika ternyata kami telah merasakan.
Segera aku berpikir mungkin aku lah yang akhirnya membentuk perasaan tersebut.
Sebenarnya, apakah dia merasakannya? Jangan-jangan abjeksi itu bukan terbentuk tetapi kubentuk.
Sesungguhnya aku tidak meragukannya. Mungkin eksistensi dari perpaduan kitalah yang menjadi..
Sayangnya aku tidak merasa depresi.
Sayangnya aku tidak kehilangan hasrat.
Sayangnya sedikit rasa malas saja yah yang memang dari dulu dan nemplok saja mencari pembenaran.
Sayangnya ...
Saturday, April 9, 2011
Monggo ke Monggo
Coklat Monggo ada dimana-mana, tidak hanya didistrubusikan di Yogya saja. Namun, malam lalu sudah bertekad untuk datang langsung ke pusatnya. Kotagede.
Kotagede ya... Dimana itu.
Pernah sekali saya kesana mengantar saudara dari Bandung untuk melihat-lihat kerajinan perak disana, panasnya...
Saat menuju kesana kemarin, sekitar jam 11an, cuacanya membuat badan sampai terasa perih karena teriknya matahari. Berbekal dari alamat yang tertera di website chocolatemonggo.com yaitu:
CV. Anugerah Mulia
Jalan Dalem KG III / 978
RT 043 RW 10
Kel. Purbayan Kotagede
55173 Yogyakarta
Indonesia
Jalan Dalem KG III / 978
RT 043 RW 10
Kel. Purbayan Kotagede
55173 Yogyakarta
Indonesia
Saya tekadkan untuk pergi kesana. Sebelumnya saya bertemu dulu dengan teman saya yang tinggal di daerah alun-alun kidul, mengkopi file rekaman yang harus saya edit sekaligus tanya-tanya bagaimana caranya ke Kota Gede. Dari plengkungkidul, belok kiri. Ya, saya ikuti saja arahan yang diberikan dia. Lurus lurus, akhirnya ada papan toko silver besar berwarna biru, saya belok kanan. Bertanya ke orang 2 - 3 kali hingga menuju pasar Kota Gede... Macetnya.. Pasar masih aktif saat saya melewatinya kemarin, banyak orang, andong, hewan-hewan, suara musik dangdut, ah... sumpeknya... Untung saat itu saya berpetualang dengan motor jadi lebih mudah menyelip-nyelip. Kebetulan jalan menuju ke Monggo juga tidak besar, tapi mobil bisa masuk kok, saat saya disana ada mobil www.rentokil.co.id
Sedang ada renovasi disana, mbak yang melayani saya mengenakan masker. Tidak seperti yang saya bayangkan, saya kira coklatnya berjejer seperti buku-buku di Gramedia hanya ada etalase kecil ya walau stoknya pasti banyak ya mungkin di belakang. Membeli disana memang sedikit lebih murah dan lebih bervariasi. Yah, cukup puas bisa sampai kesana.
OK, monggo ke Monggo :)
Friday, April 8, 2011
Bintang Jatuh
"Pa, kenapa kalau ada bintang jatuh orang-orang berdoa?" tanya seorang anak.
"Kamu pernah jatuh kan kak?" tanya papa
"Iya Pa."
"Nah, sakit nggak?"
"Kadang-kadang sakit."
"Ya, kadang sakit kan.. Itu dia sama bintang jatuh juga sakit."
"Oh, iya pa ya! Jadi orang-orang itu lagi doain bintang yang jatuh biar nggak sakit?"
"Bukan."
"Terus Pa?"
"Emang siapa sih kak orang-orang yang berdoa itu?"
"Nggak tau..."
"Loh, terus kok bisa tanya gitu sama Papa?"
"Kok Papa malah marah?"
"Nggak marah kakak.. Papa akan selalu memberi jawaban yang benar untuk kamu. Papa nggak tau siapa mereka dan kenapa mereka berdoa waktu ada bintang jatuh. Tapi kalau kakak mau tau, papa samperin."
"Gitu Pa? Papa bukan kabur kan? Jangan-jangan papa nggak tau jawabannya?"
"Papa memang nggak tau apa yang mendorong mereka untuk berdoa, bagaimana mereka memutuskan untuk berdoa, doa apa, seperti apa, dan bagaimana, papa nggak tau. Ditambah kakak nggak tau juga siapa orang yang kakak tanya? Kalau itu mama... Papa bisa tanya sekarang, meskipun belum tentu mama pun bisa kasi jawaban yang sebenar-benarnya."
"Pa..."
"Ya?"
"Kalau papa sendiri berdoa nggak?"
"Tadinya nggak, tapi kalau nanti ada bintang jatuh, papa berdoa untuk kamu ya? Mau?"
"Kenapa?"
"Karena papa juga pingin tau kaya' kakak, kenapa berdoa? OK kak? Sini kesayangan papa... 20 tahun lagi... Kalau kakak liat bintang jatuh, kakak akan berdoa, bukan karena bintang jatuh, tapi karena kenangan yang pernah tersimpan. Kakak bintang jatuhnya papa, doanya papa."
Tuesday, April 5, 2011
03:10
Tersentak saat kumelihatnya dalam pelukanku, oh dimana ini? Jam menunjukkan pukul 03:10 dini hari.
Mungkinkah ini malam pertamaku? Lantas kapan kami menikah? Betapa sangat nyata ini semua.
Aku terbangun dalam suasana yang tentram bersamanya. Beginikah rasanya bersama kekasihku?
Tidur bersama dan masih melihatnya di sampingku saat aku bangun.
Tidur bersama dan masih melihatnya di sampingku saat aku bangun.
Kapan aku tidur bersamanya? Kenapa dia ada di sampingku? Oh ini sangat membingungkan..
Menyenangkan bisa memandanginya terlelap, manusia yang indah dan rupawan.
Mungkin... Aku memang belum melakukan upacara sakral itu?
Mungkin... Kami memang hanya tak sengaja bersama?
Mungkin... Ini bukan gelap yang menuju terang, hanya mendung di sore hari?
Ah.. Aku sangat tidak mengingat apa yang terjadi hingga aku bisa memeluknya seperti barusan.
Dia terlihat sangat kecil melingkar seperti ulat. Hmm.. Aku tidak berani menyentuhnya..
Kepalaku mulai berat dan tubuhku kedinginan, aku tidur kembali..
Saat kuterbangun lagi... Ternyata mimpi indahku.
Mungkin... Kami memang hanya tak sengaja bersama?
Mungkin... Ini bukan gelap yang menuju terang, hanya mendung di sore hari?
Ah.. Aku sangat tidak mengingat apa yang terjadi hingga aku bisa memeluknya seperti barusan.
Dia terlihat sangat kecil melingkar seperti ulat. Hmm.. Aku tidak berani menyentuhnya..
Kepalaku mulai berat dan tubuhku kedinginan, aku tidur kembali..
Saat kuterbangun lagi... Ternyata mimpi indahku.
Sunday, April 3, 2011
Sumarah Siap Siaga
Detakannya merambat ke tubuhku mencetak perasaan baru
Iramanya lembut menjalar saling berebut seru
Kami bercampur sambil bertempur dan membiru
Hati-hati memperhatikan gemuruh yang menderu
Aaah...
Gelap kami terlelap dalam kegemerlapan
Lelah kami mengelah dalam kegerahan
Dekapannya entah sejak kapan telah mengepakkanku ke langit
Aromanya manis dan romantis membuat awan-awan iri dan sengit
Kami berpadu sambil mengadu dan memingit
Hati-hati memperhatikan bubur yang telah sangit
Aaah...
Terang saja kami mengerang kegirangan
Penuh energi dan saling berbagi tanpa merugi
Iramanya lembut menjalar saling berebut seru
Kami bercampur sambil bertempur dan membiru
Hati-hati memperhatikan gemuruh yang menderu
Aaah...
Gelap kami terlelap dalam kegemerlapan
Lelah kami mengelah dalam kegerahan
Dekapannya entah sejak kapan telah mengepakkanku ke langit
Aromanya manis dan romantis membuat awan-awan iri dan sengit
Kami berpadu sambil mengadu dan memingit
Hati-hati memperhatikan bubur yang telah sangit
Aaah...
Terang saja kami mengerang kegirangan
Penuh energi dan saling berbagi tanpa merugi
Subscribe to:
Comments (Atom)