Tuesday, April 5, 2011

03:10

Tersentak saat kumelihatnya dalam pelukanku, oh dimana ini? Jam menunjukkan pukul 03:10 dini hari.
Mungkinkah ini malam pertamaku? Lantas kapan kami menikah? Betapa sangat nyata ini semua.
Aku terbangun dalam suasana yang tentram bersamanya. Beginikah rasanya bersama kekasihku?
Tidur bersama dan masih melihatnya di sampingku saat aku bangun. 
Kapan aku tidur bersamanya? Kenapa dia ada di sampingku? Oh ini sangat membingungkan..
Menyenangkan bisa memandanginya terlelap, manusia yang indah dan rupawan.
Mungkin... Aku memang belum melakukan upacara sakral itu?
Mungkin... Kami memang hanya tak sengaja bersama?
Mungkin... Ini bukan gelap yang menuju terang, hanya mendung di sore hari?
Ah.. Aku sangat tidak mengingat apa yang terjadi hingga aku bisa memeluknya seperti barusan.
Dia terlihat sangat kecil melingkar seperti ulat. Hmm.. Aku tidak berani menyentuhnya..
Kepalaku mulai berat dan tubuhku kedinginan, aku tidur kembali..
Saat kuterbangun lagi... Ternyata mimpi indahku.

Sunday, April 3, 2011

Sumarah Siap Siaga

Detakannya merambat ke tubuhku mencetak perasaan baru
Iramanya lembut menjalar saling berebut seru
Kami bercampur sambil bertempur dan membiru
Hati-hati memperhatikan gemuruh yang menderu

Aaah...
Gelap kami terlelap dalam kegemerlapan
Lelah kami mengelah dalam kegerahan

Dekapannya entah sejak kapan telah mengepakkanku ke langit
Aromanya manis dan romantis membuat awan-awan iri dan sengit
Kami berpadu sambil mengadu dan memingit
Hati-hati memperhatikan bubur yang telah sangit

Aaah...
Terang saja kami mengerang kegirangan
Penuh energi dan saling berbagi tanpa merugi

Aku Masih Tidur

Perjalananku masih panjang, sepintas kusempatkan menoleh ke belakang, ada sesuatu yang menginterupsiku. Tidak lama, langkahku yang cepat itu gontai dan memutuskan untuk putar balik. Aku tidak menoleh lagi, aku menghampirinya. Sempatkah? Apakah semua ini adalah hal yang dipaksa untuk disempatkan? Jangan-jangan aku yang memaksakannya?

Sama saat aku berlari dan melaut, mencapai apakah sebenarnya aku? Terlalu sering aku membelokkan diri untuk rehat  yang malah membuatku semakin lelah. Terlalu cepat terlalu lama terlalu keterlaluan. Aku perlu memecah-mecahkannya, semua mulai bercampur menjadi satu, ketakutanku untuk bangkit kembali. Aku selama ini hanya berjalan dalam tidur... Peluh keringat, isak tangis, goresan-goresan, tawa bahak, senyum manisku.. Hanya mimpi.. semua kenangan itu, namanya, ceritanya, rasanya... Utopia... 

Sampai akhirnya aku mengerang-ngerang aku tertawa-tawa aku terisak-isak dan membuat semua orang menoleh. Duniaku mulai bergoyang gemuruh suara orang berlari seakan ingin menubrukku. Lagi ini adalah mimpiku. Duniaku hancur semua menjadi abu-abu. Mataku... Aku terbangun! Aku terbelalak cemas terbelalak kaget. Apa-apaan ini? Tubuhku mulai kejang, kulitku seperti ditusuk-tusuk, dan aku tidak tahu lagi bagaimana berdiri, tulangku meleleh, aku tertidur lagi.. Tak ada mimpi tak ada dunia. Pingsan kata orang.

Duniaku.. Aku menciptakannya saat kuterbangun. Aku tahu itu semua dari melihat bagaimana aku mengekspresikan kepedihan, kebahagian juga kebingungan. Duniaku... Tercipta dari paduan ekspresi orang yang bercerita mengenaiku, dari gambar yang mereka coba tangkap dan tunjukkan padaku. Aku... harus memulainya.. dari negatif kesekian dan minus pemeran utamaku..

Saturday, April 2, 2011

Jika Kamu..

Ada sebuah tuntutan dan kau sendiri ikut menuntut balik, lantas aku akan bagaimana? Tertuntut?
Jika itu memang sementara, bagaimana kita mengetahuinya ya Tuhan? 
Selama ini yang kualami adalah sesuatu yang sementara,
meski kenangan itu tetap ada dan berdampak terus dalam hidupku.
Apa memang semuanya hanya sementara? Akhirnya akan pergi. 
Lalu apa yang kita lakukan dalam kesementaraan itu? 
Jika kamu adalah sementara.. biarkanlah aku sementara ini. 
Jika aku adalah sementara.. biarkanlah aku sementara juga. 
Sementara kau menjadi yang sementara atau sementara aku menjadi yang sementara. 
Sementara tak berarti satu minggu.. satu bulan.. satu tahun.. satu abad.. Tak kekal.. Sementara..

Rona Cinta

Hai Rona!
Bagaimana rasanya memandangi dirimu yang baru itu?
Cinta?
Cinta apalagi yang mau kau berikan?
Ah itulah, cinta itu buta. Iya kan?Nah ini sudah lewat beberapa hari, dan kamu hanya mengharu biru dalam misi dan ambisi untuk menyelamatkannya.
Oh ternyata kau langsung memiliki banyak profesi ya? Hebat!
Lantas apakah itu membawa bahagia untukmu?
Kamu melihat ada perubahan?
Ah tololnya kamu.
Laki-laki itu membuatmu luka-luka dan kamu hanya diam serta tetap berusaha untuk dia??
Cinta?
Waw hebat ya cinta bisa membuatmu mati rasa.
Tapi jika kau sudah mati rasa manalagi yang kau rasakan?
Cinta?

posted from Bloggeroid

Friday, April 1, 2011

Pertanda ke-3

Aku baru saja ingat, bagaimana aku membicarakan temanku yang ayu.
Kami memang berteman. Kami cukup akrab. Kami membagi beberapa cerita yang tidak semua teman lain tahu.
Tapi kami pun adalah teman yang ala kadarnya.
Oh.. temanku yang ayu.
Tidak lama aku memberimu semangat, yang entah apa itu aku hanya ingin mengucapkannya.
Kita tidak berbincang. Aku pun hanya membatinnya. Alasan apa aku memberimu semangat? Dalam rangka?
Temanku yang ayu..
Sekali lagi kudoakan yang terbaik untukmu. Tetaplah semangat.
Aku tau kau hebat. Dan ya! Aku sudah melihat itu secara langsung! Kehebatanmu!
Semangat temanku yang ayu..
Teman ala kadarnya. Temanku yang ayu. Temanku yang kuat. Temanku yang hebat.


Untuk semua yang telah ditinggalkan...
Semangatlah. Seluruh kerabat temanku yang ayu. Semangatlah.
Aku pernah bertemu.. Aku pernah berbincang. Meski ala kadarnya.
Orang yang baik. Selamat jalan..

Aku Masih Berenang

Katakanlah aku sedang melaut, berenang-renang menuju ke tepian.
Pulau yang tak nyata, sebuah harapan, fatamorgana.
Aku masih berenang.
Sedikit kunikmati sejuknya air, sedikit kunikmati goyangan-goyangan ombak yang membawaku.
Sekali aku ingin melayang, pasrah mengikuti kemana mereka ingin membawaku.
Kadang kurasa sejuk kadang menusuk tulang kadang membuatku terbakar.
Sehebat apapun aku mensugestikan kenikmatan, hal-hal itu tetap tak terelakkan.
Kutelungkupkan kepala sesekali untuk memandangi apa yang sangat ingin kutinggalkan.
Kutengadahkan kepala sesekali untuk memandangi apa yang selama ini telah tertinggal.
Aku masih berenang.
Tubuhku semakin kuat menghadapi ganasnya lautan, namun di dalamnya mulai rapuh menunggu.
Pikiranku semakin cepat menanggapi bahaya yang akan kulewati, meski tidak berada di tempat yang sama.
Aku masih berenang.