Sunday, February 27, 2011

Empat tanda


Jalanan ini nampaknya tak begitu ramah padaku, suasananya sedikit membuat aku enggan menunaikan kewajibanku di siang itu. Benarkah ini jalannya? Memang, papan sebelum memasuki gang ini sudah memberikan kepastian mengenai 'posisi' tempat itu. Jalan saja yakin saja coba saja cari saja. 

Loh? Ini sudah mentok, kemana ya? Papan itu menipuku? Tidak mungkin. Sedikit aku bergeser ke kanan, memandangi rumah di sudut belokan itu, ada dua orang dewasa sedang berbincang di pelataran rumah, aku hampiri. Tiga, tiga penunjuk untuk menuju kesana.

Sampai, aku sampai, tapi dimananya? Mencari papan lainnya, aku membutuhkan tanda lainnya, bentuknya rupanya penampilannya tak begitu membuatku ingin melangkah maju, meski sebenarnya tak ada hal yang berbeda. Aku harus memastikan dulu, apa benar yang ini? Pria yang sedang rebahan itu memang seperti tamu Tuhan yang biasa aku lihat.


Friday, February 25, 2011

Gave up w/ Fixie


Finally, dua sepeda ini jadi juga. Dua sepeda dari dua laki-laki di keluargaku, si Bapak dan si Bungsu. Oh begini ni ya yang namanya Fixie, kucoba kendarai salah satu sepeda ini, aku lebih suka yang dominan hitam itu, niatnya mau ke angkringan dengan sepeda ini, ternyata mau naik untuk duduk di sadelnya saja aku kesusahan! Kakiku kurang panjang atau memang aku yang tidak biasa menaikinya, yaaaah, tetap mencoba, sampai akhirnya menyerah juga! hha. Malas juga kalau harus mengayuhnya terus menerus, jadi aku beralih ke sepeda yang biasa kupakai dan berangkat menuju angkringan yang ternyata belum buka :(

Thursday, February 24, 2011

Berhenti

"Kamu harus tahu kapan kamu harus berhenti."
(my sexy lecturer and the autis artist)
- Ya, kamu tahu kamu harus berhenti. 
- Kamu bisa berhenti nggak?
- Mau nggak mau ya berhenti.
- Ya! Bagus kamu memang harus tau kapan kamu harus berhenti.
- Apa salahnya dengan berhenti?
- Tolong kamu berhenti sebelum akhirnya sulit atau bahkan tidak bisa dihentikan.
- Bisa kamu berhenti?
- Berhenti seperti itu.
- Kita harus berhenti.
- Aku ingin berhenti.
- Jadi kita berhenti sampai disini?
- Ini bukan berhenti.
- Berhentilah berhenti
- Berhenti dkk







Wednesday, February 23, 2011

Lagi

Ah! Kubangan yang selalu mencari perhatian itu lagi-lagi mencuri langkahku. Tunggu sampai kau bisa melihat dirimu ya kubangan, kasihan kau kuinjak. Aku yakin kau hidup dan aku sangat ingin menginjakmu sampai mati.

GOTCHA!

"Apakah kamu sengaja menunjukkan kebodohanmu untuk memamerkan betapa kamu telah membodohi langit?"
Langit pun selalu setia menunggu bintang datang, langit akan melindunginya dan jangan menutupi apapun kepadanya, karena langit tak akan melepaskan bintang hanya untukmu. Langit itu dapat melihatnya. Langit itu selalu terjaga, dan tidak sulit baginya untuk mengubah keputusannya untuk menjadi hitam saja demi bintang. 

PRAAAANG!

Monday, February 21, 2011

You're not alone, just lonely. And that's me!



Saat itu saya sedang menunggu sendirian, ya sampai akhirnya melihat seorang pemuda yang sedang berteduh sendirian di bawah pohon. Saya memandanginya penasaran, dan pandangan itu persis seperti melihat tanaman kecil yang berdiri tegak sendirian itu. Saya rasa, baik pemuda maupun si tanaman kecil itu kesepian.. Kasian..
Persis malam harinya.. ketika akhirnya saya pun menjadi sendiri kembali. Ternyata, tidak perlu saya ikut mengkasihani diri saya. Mungkin itu pilihan kita? Tapi, saya tidak memilihnya? Tapi.. Saya tidak bisa memaksa? Mungkin itu yang harus saya lewati. Meskipun si tanaman kecil juga si pemuda itu sedang sendirian dan nampak sepi, setidaknya masih ada saya yang memperhatikan mereka bukan?

Berhentilah jika itu yang kamu mau. Itu pilihanmu. Tapi bukan pilihanku dan bukan keingananku. Maka berhentilah berkata apapun, karena aku sudah cukup untuk mengerti bahwa semua harus berhenti bukan. Tidak perlu kamu menegaskan kembali tentang keberhentianmu. Selamat melanjutkan perjalanmu kasih.